Pertemuan dengan Dr. Rini Mahendra

Saya sudah mendengar nama Dr. Rini beberapa kali dari beberapa teman. Lantaran minus JR, 8 tahun, menjadi minus 3, saya tergerak untuk segera bikin janji untuk bertemu Dr. Rini, seorang dokter mata khusus anak (pediatric opthalmologist).

Puji Tuhan saya dihubungi staf dari Dr. Rini (selang 2 hari saya telpon untuk bikin janji), untuk bertemu Dr. Rini 4 hari ke depan lantaran ada pasien yang cancel. Tentu aja langsung saya oke-in, apalagi sempet denger dari temen-temen kalo antrian tunggu bisa mingguan atau bulanan. Dapet antrian within a week is indeed a blessing.

Saya langsung menjadwalkan 2 bocah saya, JR dan JE untuk ketemu Dr. Rini. JR berusia 8 th, saat ini duduk di kelas 3 dan sudah pakai kacamata sejak kelas 1. JE, 6 tahun, tidak berkaca mata, tapi tetep saya bawa untuk konsul. Dengan kondisi saya minus 6, sepertinya 2 bocah harus rutin dibawa cek mata.

dr Rini Mahendra.jpg

Begitu masuk ruangan konsul, terasa banget suasana yang ramah dari Dr. Rini. Ruangan konsulnya ada mainan banyaaakkk sekali. Beda sama beberapa dokter mata yang pernah saya temui sebelum-sebelumnya (apalagi dengan kondisi saya uda pake kaca mata 30 tahun, ketemu banyak dokter mata dan coba optik sana sini), Dr. Rini enak diajak ngobrol, menjawab apa adanya dan memberikan pendapat-pendapat baru — dari sisi seorang dokter mata, seorang nenek, seorang ibu dan juga pemerhati holistic wellness.

Kami ngobrol panjang, mulai dari berat badan anak, warna kulit anak yang seharusnya seperti apa, pemenuhan gizi, dan tentu aja yang utama: soal mata. Penjelasan yang paling menarik buat saya adalah ketika Dr. Rini membahas kondisi mata dikaitkan dengan postur tubuh. Dari hasil foto dan pemeriksaan, terlihat di mana kemiringan atau ketidaksesuaian posisi dan struktur wajah anak. Keliatan juga berapa derajat potensi juling, dibandingkan dengan derajat ideal yang harusnya diperlihatkan. Setiap anak difoto dan dari 8 pose keliatan titik miring ada di mana.

Dari hasil foto lalu Dr. Rini memberikan arahan, apa saja yang harus dilakukan. Mulai dari perbaikan gizi anak (supaya mata lebih sehat), terapi pijat di area mata dan sekitarnya (supaya aliran pembuluh darah lebih lancar — ada petunjuk lengkap dalam lembaran kertas), pemberian obat tetes (setiap anak beda, sesuai kebutuhan dan case masing-masing), sampe di kasus JR, perlu tes feses (kultur) dan alergi (diberikan surat rujukan apa yang musti di tes dan dokter rujukan selanjutnya). Apakah tes feses ada hubungannya dengan mata? Ada dong. Dari feses keliatan pencernaan seperti apa, jadi kalo ada problem pencernaan, segera diatasi supaya gizi bisa terserap baik dan mendukung kesehatan mata.

Ketemu Dr. Rini seperti hadiah akhir tahun buat saya pribadi. Pembicaraan dan arahan Dr. Rini memberikan pencerahan atas beberapa pertanyaan saya selama ini. Salah satunya soal mata silinder pada anak, perlu ga sih pake kaca mata? Soalnya saya pernah ketemu dokter mata yang pernah bilang, kalo silinder nya kecil, gapapa dihilangkan saja dari kaca mata. Ternyata faktor silindris itu berpengaruh pada posisi kepala anak pada saat ia melihat sesuatu. Tanpa sadar, mata silindrisnya “memaksa” anak untuk mengubah posisi kepala supaya terlihat lebih jelas. Ketika kondisi ini berjalan lama (bulanan/tahunan), mata anak bisa menjurus pada juling.

Pokonya para ortu yang feeling ada yang ga beres dengan mata anak, buruan deh bawa ke Dr. Rini. Antrinya memang panjang tapi untuk serious case, misalnya seperti mata minus besar di usia dini, bisa diprioritaskan. Udah antri panjang, kalo ga cocok, gimana?? — semua saran, pendapat dan arahan dari Dr. Rini kembali pada orang tua masing-masing untuk memutuskan apa yang hendak dilakukan. Saya yakin sebagai orang tua, kita pasti ingin yang terbaik untuk anak kita. Bagian kita sebagai orang tua, cari pendapat dan informasi sebanyak-banyaknya, lalu kita sesuaikan dengan kondisi anak.

Buat para orang tua yang masih punya anak balita (apalagi jika papa mama berkaca mata) juga disarankan untuk bertemu konsul dengan Dr. Rini. Semakin cepat diketahui, semakin baik sehingga bisa ketauan kalau perlu perbaikan atau tindakan preventif. Dengan segala penyesalan dan ketidaktahuan sebelumnya, saya bersyukur banget ketemu Dr. Rini minggu lalu. Makin bersyukur karena pak suami juga ikut dan sama-sama dengerin pengarahan dari Dr. Rini. Semua informasi dan feedback yang sangat padat itu lebih enak didengerin berdua jadi kalo ada yang lupa/missed, bisa saling mengingatkan.

Setelah selesai konsul, saya menuju Kenan Optik (optik rujukan dari Dr. Rini, juga hanya di Bintaro!), untuk memberikan resep mata bocah. Apa yang spesial dari optik ini? Emangnya optik lain ga bisa bikin resep Dr. Rini? (Gitu dong pertanyaan sejuta umat, apalagi yang tinggalnya jauh dari Bintaro kayak saya). Yang spesial dari Pak Kenan (ditangani langsung sama owner optik). cuma dia yang sanggup, mau dan bersedia membantu permintaan Dr. Rini atas setiap pasien ciliknya. Saking detailnya resep Dr. Rini, pak Kenan uda biasa berkomunikasi bolak balik sama Dr. Rini sehingga kita sebagai pengguna kacamata bisa langsung pake dengan nyaman. Bahkan ada garansi, kalo sampe ga nyaman kacamatanya, pakenya ga enak, pusing terus menerus, boleh dibalikin dan refund uangnya.

Jika ada yang komentar, jauh-jauh amat sampe Bintaro. Jawaban saya; if you realise how precious your child’s sight, nothing is too far or too expensive. :)

Yang berminat konsul, silakan kontak langsung ya:
Dr. Rini Mahendrastani Singgih, DSM.
Pediatric Opthalmologist
Klinik Mahendra Indonesia
Jalan Bintaro Utama Blok DD XII No. 7, Bintaro Jaya 3A
Tangerang 15225, Indonesia
Telpon (021) 735 7610

Jatinegara, akhir tahun 2019

My struggles with allergies

On one night I was tucking my 5 year old boy to bed,

My son was complaining that he had itches all over his stomach. I looked at his stomach,turns out he had allergic blisters around his belly. I talked to my wife on what he just had, she said he just drank his milk half an hour ago. I discussed this with my son, telling him the cause might be the milk that he drank earlier on. I negotiated with him, told him he should hold back on milk for 2 days and see if he stop itching in the night; If it turns out hes still itching, he is free to drink milk whenever he wants. 2 days went for him without drinking milk and he was itch free for those 2 days.

About a week ago late November 2019, he returned from his school and asked my why milk caused problems to his body while he had to answer in school that milk is good for your body.

I had to tell him this story ….

Throughout my life, I struggle immensely to reduce my allergic tendencies to my environments. There are times when I couldn’t lay down to sleep at night due to asthma, I would be sneezing or coughing at school. Doctors would just tell me I have allergy, and give me inhalers to cope whenever my asthma flared up. I hated those things to the bone, because I would feel worse afterwards whenever I used those inhalers.

Everything turned around after I graduated from college; the times were changing, and doctors are open to holistic knowledge. I met 2 doctors that changed the way I viewed my allergy. One was a marine doctor in Surabaya, he graduated from Germany and opened a public clinic. He explained at that time that my allergies happened due to the fact the cells in my body was deficient in calcium, so he gave me calcium shot and calcium supplements for a month. His treatments reduced my allergic tendencies for about a year; by then I knew if my allergies flares up, I should be taking calcium supplements and I would be fine.

It boggles me how it was possible for my body to be so deficient in calcium, until I met doctor Tan Shot Yen and got yelled at. So doctor Tan Shot Yen really hate milk… well, she is REALLY .. REALLY AGAINST GIVING HUMANS COWS’ MILK …. So I took her advice and stopped drinking milk and reducing my protein intakes especially red meat. Lo and behold, i stopped sneezing and my body felt better. So what happened? I looked in the internet and found this article

https://iphysio.io/osteoporosis/

Research suggests that the more animal protein you eat, the higher your risk of hip fracture becomes. Cross-cultural studies show strong links between a high animal protein diet, bone degeneration, osteoporosis and the occurrence of hip fractures. In rural communities in China where most of the protein in the diet came from plant foods rather than animal foods, the fracture rate was one-fifth of that in the US.

This is one of the articles that I’ve found recently, but you can search throughout the internet to find articles with the same conclusions. We have always think by drinking milk, we would increase the calcium intake which will support our bones, but turns out the protein in milk not only inhibits the calcium absorption, but it might instead causes calcium loss throughout our body (Which explained my calcium deficiencies). Worst case? The excess calcium would just stick to your arteries causing blockage, which in turn resulting heart attacks and strokes.

So what happened during my childhood that caused all of my allergies? I remembered it vaguely that I would always drink milk everyday, even to the point I could skip a meal just because I had milk and it would be enough. I was suffering, but i did not know the cause nor how to handle everything that went wrong; and that problem causes ripple effects to my adulthood.

It is really hard to explain to your kids how harmful can something like milk can be when his school is teaching him milk is good and he should drink daily in order to get calcium into his daily diet. I told my kids cows get calcium into their milk by eating grass, so thats why they should eat their veggies. The reason why I’m writing this article is I to implore parents to review the food they are feeding to their kids; just because your government say something is good, it does not mean it would be good for your kids unconditionally.

Written by AB

Perjuangan saya dalam mengurangi alergi

Ini adalah testimonial saya dalam mengurangi reaksi alergi saya sehari-hari.

Hampir seumur hidup saya, reaksi alergi adalah sesuatu yang harus saya hadapi hari demi hari.  10 tahun terakhir ini, reaksi alergi saya bisa dibilang jauh lebih terkontrol. Hal- hal apa sajakah yang menurut saya berpengaruh dalam mengurangi alergi saya?

2-liters-of-water.jpg

MINUM AIR MINIMAL 2 LITER PER HARI
Menurut saya, ini adalah hal yang lumayan penting untuk menambah daya tahan tubuh secara keseluruhan. Saya pernah membaca buku you're not sick, you're thirsty. Di dalam buku tersebut dinyatakan bahwa alergi juga merupakan salah satu gejala yang timbul apabila kita kekurangan air. Salah satu ciri lagi yang timbul di diri saya adalah pecahan kulit di tumit kaki saya. Setelah saya menjalankan terapi minum 2 liter/hari, kaki saya tidak pecah-pecah lagi, alergi saya juga lumayan berkurang.

 

 

 

KURANGI SUSU, MINUM SUPLEMEN KALSIUM.
Lho lho lho, kok sepertinya terbalik? Bukannya kita minum susu untuk menambah kalsium di badan? Iya dan Tidak. Memang benar kandungan kalsium di susu memang banyak, namun riset terakhir the Harvard Nurses' Health study published in the June 1997 issue of the American Journal of Public Health dinyatakan, bahwa protein dari susu akhirnya menarik kalsium dari tulang dan sel kita dan mengeluarkan kalsium tersebut (dan yang dari susu) ke peredaran darah dan ke kencing kita. Oleh karena itu ditemukan bahwa wanita yang tidak meminum susu pada akhirnya memiliki tulang yang lebih kuat dari mereka yang meminum susu. Hubungannya hal ini dengan alergi? Saya pernah bertemu dengan seorang dokter yang mengatakan, permasalahan alergi itu dimulai dari defisiensi kalsium di permukaan seluruh sel badan. Apabila kita kekurangan kalsium, maka sel kita lebih rentan dari alergen-alergen, terlebih lagi ketika sel di badan kita sedang dingin. Jadi bagaimana saya mendapatkan kalsium? Saya tanya anda kembali, apakah sapi dewasa meminum susu untuk menghasilkan susu penuh dengan kalsium? Tentu tidak, mereka mendapatkan kalsium tersebut dari tumbuhan. Namun proses penambahan kalsium dengan memakan sayur-sayuran merupakan proses yang agak lambat. Permasalahannya ada di alergi yang menyusahkan anda sekarang. Untuk jangka pendek, suplemen kalsium bisa membantu kita untuk menstabilkan keadaan badan yang sedang jelek. (Dengan ini, kita tidak mengkonsumsi protein berlebihan) Saya dulu dinasihati untuk meminum 1 tablet kalsium per hari selama 1 bulan atau sampai alergi saya reda. Setelah itu saya berusaha mendapatkan kalsium dari tumbuhan. Perlu saya peringatkan, salah satu teman saya pernah mengalami pengumpulan batu di ginjalnya karena terlalu banyak minum suplemen kalsium yang menahun. Oleh karena itu jangan mengkonsumsi suplemen ini secara berlebihan.

Sebagai pembanding, saya mempraktekan pengaruh susu kepada kedua anak saya. Sampai umur 4 tahun Mereka suka sekali minum susu di malam hari. Karena saya agak khawatir dengan susu, saya selalu mengencerkan susu mereka dengan air. Setelah 4 tahun, mereka menolak untuk meminum susu yang saya encerkan, dan mereka mencari sendiri susu uht. Beberapa waktu kemudian anak lelaki saya suka gatal2 di malam hari, dan anak perempuan saya suka batuk2 di pagi harinya. (Walaupun mereka minum air setelahnya) kemudian saya membiarkan mereka bereksperimen sendiri, saya berkata apabila mereka tidak minum susu 2 hari, gatal dan batuk mereka pasti hilang, apabila tidak hilang, saya tidak akan pernah melarang mereka minum susu. 2 hari kemudian gatal batuk mereka hilang dan mereka tidak pernah lagi meminta susu di malam hari.

Calcium suggestion.jpg

KURANGI PROTEIN HEWANI DAN MINYAK GORENG

Untuk hal ini saya tidak bisa bahas dengan mendalam, karena saya sendiri masih meneliti hubungan antara protein dengan status badan saya sekarang. Namun saya bisa pastikan, ketika saya mengurangi daging dari diet saya, keadaan tubuh saya membaik secara keseluruhan. Untuk lebih jelasnya lihat penjelasan john mcdougall tentang starch based diet dan penjelasan beliau mengapa ia hanya menganjurkan 12% protein dari dietnya.

Demikianlah hal-hal yang saya lakukan dalam mengurangi alergi saya sehari-hari. Semoga artikel ini bisa membantu anda atau kenalan anda yang masih mengalami masalah dengan alergi. 

Hidup Sehat ala dr. Tan Shot Yen

 

Tulisan ini sudah pernah dipost sebelumnya di blog saya pribadi (http://sintalucia.wordpress.com) pada tanggal 18 Juli 2010.  Saya repost di sini karena topiknya berkaitan dengan kesehatan.

-------------

Perkenalan resmi saya dengan dr. Tan Shot Yen terjadi baru-baru ini, sekitar 3 minggu lalu tepatnya.  Nama itu bukan nama yang baru saya denger sebelumnya karena si-dokter-yang-sering-disebut-namanya itu sudah sering disuarakan Arief sejak 2 tahun lalu.  Makin sering disebut, rasa penasaran saya pun semakin meningkat ditambah dengan derasnya informasi kesehatan yang sering saya dan Arief diskusikan.

dr. Tan Shot Yen adalah seorang pemerhati nutrisi dan menjadi salah satu “dokter” yang ngetop di keluarga Arief karena pengajaran pola makan yang ‘kontraversial’.  Beliau (dan juga ayahnya yang ngetop juga, dr. Tan Tjiauw Liat) menganut pola makan sayuran mentah (raw food).  Dr. Yen rutin mengisi kolom nutrisi di tabloid NYATA dan menulis di majalah bulanan Prevention.

Penjabaran pola makan raw food ini kebetulan ada yang pernah posting di sini.  Trus klo pengen baca artikel KOMPAS mengenai si ibu dokter bisa diliat di sini.

Memang, pola makan tersebut sukses membuat berat badan Arief sekeluarga turun.  Tapi yang perlu dicatat adalah bahwa tujuan mengikuti pola makan dr. Yen bukan semata-mata untuk nurunin bobot tubuh, melainkan untuk kesehatan jangka panjang.  Banyak sekali pasien yang datang dalam kondisi stroke, pernah kena serangan jantung, atau diabetes, setelah mengikuti pola makan yang dianjurkan si ibu dokter, beberapa bulan kemudian sudah menunjukkan perbaikan yang signifikan.  Salah satu tetangga deket rumah, yang tadinya kolesterol parah dan pernah kena serangan jantung, divonis umurnya tidak panjang lagi, sekarang sehat bugar akibat disiplin mengikuti pola makan dr. Yen.

Nah, ini cerita saya waktu pertama kali ketemu tatap muka (*kuliah kalee…) dengan dr. Yen.

Hari itu sebenenarnya Arief mau berkonsultasi sama dr. Yen soal mama (mertua).  Mengenai mama ini  ceritanya bisa satu blog sendiri lagi.  Begini, sejak pulang dari China awal Mei, mama sakit urat kejepit.  Uda berobat ke mana-mana.  Disuntik dokter uda.  Ga cuma 1 dokter yang nyuntik, uda 3 dokter loh.  Ke Chiropracter uda.  Dipijat juga udah.  Ke Sinshe juga uda.  Akupuntur udah.  Hydrotherapy juga uda.  Apalagi yang belum coba selain operasi?  Soalnya si mama ga sabar, pengennya cepet sembuh aja, makanya rajin mencoba-coba.  Entah karena painkiller yang ga cocok atau ada efek lainnya, suatu hari si mama muntah-muntah.  Frekuensi muntah yang tinggi sehingga akhirnya kami putuskan untuk dibawa ke RS.  24 jam setelah dirawat, mama kejang dan Selasa subuh tidak sadarkan diri sehingga masuk ICU.

Singkat cerita, dari hasil lab diketahui bahwa penyebab ketidaksadaran mama malam itu adalah rendahnya kadar natrium dalam darah.  Ini pengetahuan baru bagi kami semua.  Selama ini, saya mah taunya klo kadar gula dalam darah drop, maka rasanya puyeng deh.  Kliyengan yang bisa bikin limbung.  Baru enakan klo uda minum yang agak manis.  Ternyata kurang natrium juga berdampak bahaya bagi tubuh, apalagi otak.  Pantesan, beberapa jam sebelum tidak sadar itu, si mama menunjukkan gejala yang aneh.  Malam itu, mama bisa nanya 1pertanyaan yang sama berulang-ulang seperti orang pikun.  Saya ngerasa aneh banget, secara si mama ga pernah begitu sebelumnya.  Tapi saya mana kepikir klo itu ada hubungannya dengan dropnya level natrium dalam darah?

Kembali ke cerita dr. Yen.

Hari itu Arief datang untuk berkonsultasi dengan dr. Yen.  Begitu selesai mendengar kisahnya dari Arief dan membaca hasil lab, si ibu dokter tidak sungkan menunjukkan rasa heran dan kecewanya (dengan nada suaranya yang khas: tegas dan super galaaakk!! hahahaha), kenapa si mama yang setahun sebelumnya datang dalam kondisi sehat bugar, tau-tau bisa masuk ICU.  Katanya, pasti pola makannya yang salah dan tidak disiplin.

Selesai konsultasi, malah saya yang dijadwalkan untuk bertemu dengan dr. Yen.  Loh kok malah saya jadi berobat? 

Ga cuma karakter si ibu dokter yang laen daripada yang laen.  “Cara” mengobati pasien juga tergolong antik. Pasien lama, artinya pernah datang berobat, boleh datang berobat pada pukul 09.00 – 11.00, setiap hari Senin hingga Jumat.  Lalu pasien baru mulai ditemui mulai pk. 11.

Eits… jangan cepat membayangkan one-on-one session di pk. 11 ini.  Yang terjadi adalah: semua pasien baru (beserta keluarga atau siapa aja yang nganterin) dikumpulkan dalam ruangan prakteknya, lalu mulai deh dr. Yen “berceramah” mengenai pola makan sehat yang durasinya bisa… 3 jam!!  (*my personal advice: kudu makan dulu klo mau ketemu dr. Yen supaya ga kelaperan di tengah-tengah ceramah*)

Lalu, segera hapus bayangan seorang dokter berkata-kata memberikan nasehat medis dengan nada ramah dan suara yang lemah lembut.  Baru sekali ini saya ke dokter, di mana pasiennya adalah (misalnya) bapak yang stroke, berjalan pincang, begitu duduk langsung diomelin sama dr. Yen!

Pak, ngapain jalannya gitu, kaki diseret-seret.  Mau keliatan kayak orang cacat?” — diucapkan dengan nada suara kenceng menggelegar, dan semua pasien di ruang tunggu juga denger 

Jadi ibu bilang sayang anak?  Tapi kalo Ibu buka kulkas, minum coca cola, ibu ga inget klo Ibu uda nyusahin anak Ibu, musti nganterin Ibu berobat kencing manis ke mari??” — kata dr. Yen kepada seorang ibu penderita diabetes parah.

Dengerin kalimat sindiran super pedes kayak gitu, gmana ga deg-degan klo berobat ke sana??

Naaah… berkaitan dengan posting saya sebelumnya, dr. Yen ini juga salah satu orang yang melarang konsumsi susu.  Menurutnya, susu itu cuma asupan anak-anak maksimal 2 taon (dengan catatan, susunya juga kudu ASI, bukan susu formula).  Kebutuhan kalsium yang dibutuhkan manusia tidak seharusnya diambil dari susu (olahan) tetapi dari sayuran plus berjemur di bawah matahari pagi (sebagai komplemen vitamin D) sebelum jam 9 pagi setiap harinya (sst, dugaan saya dan Arief, dr. Yen baru praktek sesudah jam 9 karena sebelumnya dia ambil waktu berjemur demi vitamin D itu ).

Waktu saya cerita sama temen saya yang berprofesi dokter mengenai larangan dr. Yen tentang susu, temen saya langsung ngomel-ngomel.  Dia sama sekali ga setuju dengan pendapat itu dan tetap percaya pada khasiat susu.  Menurutnya, selama semua dimakan dalam dosis seimbang, maka mustinya baik-baik aja dan tidak berbahaya.  Intinya, balanced life.  Ada benernya juga.  Nah, giliran saya sebagai pasien yang puyeng

Ga cuma susu yang dilarang, tapi dr. Yen juga tidak merekomendasikan minum jus buah (!!).  Alasannya, buah setelah dijus mengandung kadar gula yang tinggi, berbeda jika dimakan langsung (dikunyah).  Kadar seratnya lebih tinggi. Waah…  Padahal saya doyaaaann banget sama jus buah.  Itu kan enak banget… Gampang buatnya, segeeer… praktis dan berguna banget buat melancarkan bab.  Sebelum menikah, setiap pagi saya minum jus buah (kasar) tanpa gula yang isinya tomat, wortel, apel merah, apel hijau, pir, kiwi dan stroberi.  Itu uda jadi menu sarapan tetap saya selama 2 taon.  Saking ga relanya kesukaan saya dibilang ga sehat, Arief dan saya pernah berdebat mati-matian mengenai jus buah ini.  Memang saya belakangan jarang minum mix juice kayak dulu, tapi saya tetep cinta sama jus buah hehehe…

Selain susu, dr. Yen juga musuhan sama nasi dan produk karbo lainnya.  Menurutnya, kecuali aktivitas kita itu bertani, there’s no point eating rice.  Dr. Yen bilang, nenek kita dulu makan nasi dan sehat, soalnya kerja keras, bertani dan berladang.  Lah orang sekarang, makan nasi sebakul padahal aktivitasnya tidak seberat nenek jaman dulu yang bertani.  Yah masuk akal juga sih.  Klo menurut saya pribadi mah, kadar karbo yang masuk dalam tubuh perlu ditakar sesuai aktivitas saya.  Selama saya lebih sering duduk di kantor, makan nasi kebanyakan emang bikin cepet ngantuk dan perut buncit hihihi…

Timbul pertanyaan: Ini itu ga boleh.  Jadi apa dong yang boleh?

Yang direkomendasikan, disarankan, dihimbau dr. Yen adalah… makan salad sayuran mentah dengan selada bokor sebagai bintang utama.  Temen makan salad ini boleh paprika, tomat cherry, timun, strawberry, apel, alpukat, pir dan jeruk.  Perhatian, ga boleh pake duren! Dressingnya cuma boleh olive oil.  Dimakan setiap hari sesuai jadwal makan seperti biasa. Daaaan… tidak lupa banyak minum air putih! (bukan soda)

 

*ssstt… di rumah, biar ga bosen, sesekali kami tambahkan potongan keju mozarella atau peperoni hihihi…

 

Pada dasarnya, dr. Yen percaya bahwa manusia adalah makhluk organik, maka sebaiknya banyak makan makanan yang organik, alami dan tidak mengandung bahan pengawet.

Selain salad selada segar, dr. Yen juga mengajarkan perlunya asupan reguler vitamin C dosis tinggi, vitamin E dan Omega 3.  Menurutnya tubuh kita tidak bisa memproduksi vit C sendiri jadi harus dibantu dari luar. Klo lagi ga enak badan, dosis yang dianjurkan ga tanggung-tanggung, 6 tablet sekali minum!

*saking gencarnya informasi pola makan ini disampaikan, sebelah ruko tempat dr. Yen praktek di bilangan BSD sekarang ada counter penjualan Omega 3 yang mengambil keuntungan atas ‘anjuran’ ini.  Padahal si toko sebelah itu ga ada hubungan bisnis sama sekali sama dr. Yen loh!*

Omong-omong minyak ikan Omega 3, saya pernah posting mengenai squalene di sini.  Sejak saat itu saya mengurangi konsumsi minyak ikan Omega 3.  Tapii… belakangan ini saya kembali coba rutin meminum Omega 3 secara itu yang disuruh sama dr.Yen.

Menurut dr. Yen, jika seseorang patuh mengikuti saran pola makan ini, tidak hanya tubuh sehat yang diraih, tapi ada bonus-bonus lainnya: kuku kuat, rambut sehat bercahaya dan bibir yang tidak kering.  Hmmm… saya penasaran juga, andaikan saya mengikuti pola makan sehat ala dr. Yen, at least 80% saja, siapa tahu saya bisa lepas ketergantungan dengan Aldazide.

Btw… dr. Yen juga uda ngeluarin buku berjudul Saya Pilih Sehat dan Sembuh setebal 128 halaman.  Setelah selesai baca, menurut saya isi buku tersebut agak mirip dengan buku The Miracle of Enzyme-nya Prof. Dr. Hiromi Sinya.  Yang terakhir ini pembahasannya lebih komplit.

Kesimpulannya, pola makan dr. Yen ini memang sehat dan terbukti manjur.  Buktinya, banyak pasien yang sembuh dari penyakit lamanya setelah menjalani pola makan ala dr. Yen dengan disiplin.

Namun menurut saya pribadi terkadang makan salad itu tidak selalu praktis.  Selada bokor harus dicuci bersih dengan air mengalir, lalu disimpan dalam wadah tertutup di dalam kulkas.  Ini tidak sulit, yang penting telaten.  Jika dibawa ke kantor/ke tempat kerja, sebaiknya diletakkan di lemari pendingin.  Yang agak sedikit repot adalah jika di tempat kerja tidak ada kulkas, maka perlu bawa cooler box sendiri atau tas yang berpelapis aluminium foil untuk menjaga salada tetep seger dan terasa kres kres ketika dimakan.

Klo lagi pas di rumah aja si enak ya. Gmana klo lagi traveling ke luar negeri dong? Kok kayaknya repot juga yaa untuk bikin salad sendiri.  Klo beli terus di restoran pasti biayanya tidak murah.  Terpaksa deh… ritual makan saladnya dikorbankan selama liburan hehehe…

Jika ada yang berminat, ini alamat praktek dr. Tan Shot Yen:

Komplek Perkantoran CBD – BSD City Sektor 3.3 Blok G No. 22

(Ruko Sebelah Teraskota) – Serpong

Telp. (021) 531 64347 atau hp. 0856 271 2067

Sekali konsultasi biayanya …… (Harga sudah berubah, tolong di cek kembali)

 

Jatinegara, 19 Juli 2010 — kampanye makan salad!

Mengatasi Masalah Berat Badan dengan Starch Based Diet

Ini adalah Testimonial yang mengharukan dan menakjubkan

Ini adalah testimonial Chef AJ. Beliau adalah seorang koki vegan. Ia menceritakan perjuangan seumur hidupnya menghadapi kegagalan demi kegagalan dalam menurunkan berat badannya. Ia menceritakan penghinaan yang dilakukan oleh anak-anak di sekolah, anggota keluarganya, juga bercerita tentang penyakit-penyakit yang ia derita karena pola makannya yang salah. Ada sebuah cerita yang menarik dimana Chef AJ terdiagnosa dengan polip di dalam ususnya, ia memutuskan untuk menjalankan vegan diet dan polip di dalam ususnya hilang setelah 3 bulan. Namun diet ini tidak bisa menurunkan berat badannya. Pada akhirnya dia bertemu dengan seorang dokter untuk makan-makanan yang berkanji. 

Begitu juga Penn dari Penn & Teller

Penn berhasil menurunkan berat badannya sebanyak 103 pounds (Kira-kira 45 kg) dengan memilih makanan-makanan yang berkanji juga.

Berikut ini adalah seminar yang diberikan oleh dokter McDougall, yang menganjurkan cara makan ini.

 

Apabila anda bertanya mengapa selama ini kita tidak pernah mendengar tentang Dokter McDougall sedangkan dia telah membantu orang selama puluhan tahun? Dr McDougall sering ditolak dari tempat seminar yang membahas Obesitas. Mengapa? Karena Dr McDougall mengatasi obesitas tanpa obat atau perawatan. Oleh karena itu tidak ada perusahaan yang mau mempromosikan beliau.

Berikut ini adalah testimonial dari Hannah yang mengikuti Starch based diet. (Amati dimana Hannah mengatakan bahwa dia mengikuti Starch Solution yang merupakan program pendidikan John McDougall)

Sekarang Hannah menunjukan orang lain cara-cara untuk hidup sehat.

Mengenai GMO

Apakah anda sering mendengar mengenai GMO (Genetically Modified Organism)?

Tanaman yang disebut GMO, merupakan sejenis tanaman yang sudah dirubah genetiknya oleh manusia untuk memenuhi kebutuhan tertentu. Permasalahan terbesar dengan GMO adalah penggunaan teknologi ini, yang tidak diarahkan untuk memperbaiki mutu makanan kita, tetapi untuk mempermudah para petani untuk menanamnya. (Tahan pestisida atau memiliki pestisida di bibitnya yang bisa membunuh serangga) Permasalahan terbesar berasal dari herbisida glyphosate yang digunakan untuk tanaman GMO. 

Inilah sebabnya para pengguna GMO ini tidak ingin menaruh label di produk mereka. Di zaman modern ini, amatlah langka bagi seorang produsen untuk tidak menandai produk mereka untuk menunjukan kelebihan-kelebihan produk dibandingkan saingannya. Produk GMO rata-rata tidak memiliki keunggulan dibandingkan produk non GMO. Kebanyakan keuntungan dari produk GMO ini hanyalah ketahanan mereka terhadap herbisida seperti Glyphosate. Beberapa permasalahan yang timbul dan sedang di teliti karena herbisida ini adalah Kesuburan wanita, kecacatan dari lahir, Kanker, auto immune dan Autism.

Di Zaman modern ini, alangkah sulitnya bagi kita untuk menghindari produk GMO. Dua produk GMO yang paling tersebar luas adalah Kacang Kedelai dan Jagung. Kedua produk ini sering kali digunakan di berbagai hal dalam perindustrian makanan. Dimulai dari produksi gula, kecap, bahkan untuk makanan ternak.

Apabila anda berharap beberapa lembaga seperti USDA (United States Department of Agriculture) seharusnya sudah mengkaji penggunaan produk ini, beberapa artikel menunjukkan bahwa USDA telah berulang kali menyatakan bahwa produk pestisida maupun bibit yang digunakan yang berhubungan dengan GMO adalah aman. Banyak pihak telah menuntut USDA menunjukkan permasalahan yang diakibatkan dari penggunaan pestisida yang berlawanan dengan pernyataan USDA. USDA menyimpulkan pengurangan penggunaan pestisida akan menyebabkan kekurangan hasil dari panen yang akan menyulitkan penyediaan produk tanaman tersebut, oleh karena itu test untuk beberapa produk pestisida maupun GMO tidak dijalankan dan dianggap aman. Terus terang saja, langkah ini kami lihat seperti melindungi rumah dari maling menggunakan granat. Malingnya gagal mencuri, tetapi rumah juga hancur.

Para dokter dan petani banyak berbagi tentang pengalaman mereka dalam memilih sayur-sayuran di pasar. Mereka mengamati kebanyakan orang memilih sayur-sayuran yang sempurna, tidak banyak lubang dan layu. Pada akhirnya, produk-produk yang berlubang adalah produk yang paling aman, karena produk tersebut tidak memiliki banyak insektisida atau treatment lainnya, serangga mau memakan produk tersebut. Pada akhirnya kita harus menyadari, keinginan kita untuk mendapatkan kesempurnaan merupakan kesalahan terbesar kita.

Sudah saatnya bagi kita untuk berhenti mencari yang terbaik ketika memilih makanan. Ketika kita meminta harga termurah untuk barang yang paling sempurna di mata kita, produsen akan mencari cara untuk mencapai hal tersebut. Hal yang perlu dikhawatirkan adalah cara mereka untuk memenuhi keinginan kita.

Sekarang ini masih banyak produk di tempat umum yang bersifat organik Non GMO di Indonesia. Di negara barat, hal ini sudah hampir tidak menjadi kemungkinan lagi, karena bibit GMO sudah mulai tercampur dengan Non GMO. Alangkah baiknya bagi kita untuk mulai membudidayakan produk-produk kita yang masih bervariatif dan masih aman bagi semua mahkluk hidup di dunia ini. 

http://articles.mercola.com/sites/articles/archive/2012/08/07/genetically-engineered-foods-hazards.aspx